MAIN COASTAL ECOSYSTEMS IN AMBON BAY

(EKOSISTEM PESISIR UTAMA DI TELUK AMBON)

MANGROVE FORESTS \ Hutan Bakau

Hutan bakau, juga disebut rawa bakau, semak bakau, atau mangal, adalah lahan basah produktif yang terdapat di zona pasang surut pesisir.[1][2] Hutan bakau tumbuh terutama di lintang tropis dan subtropis karena bakau tidak dapat bertahan terhadap suhu beku. Terdapat sekitar 80 spesies bakau yang berbeda, semuanya tumbuh di daerah dengan tanah rendah oksigen, di mana air yang bergerak lambat memungkinkan sedimen halus untuk menumpuk. Banyak hutan bakau dapat dikenali dari jalinan akar penopang yang lebat yang membuat pohon-pohon tampak berdiri di atas tiang di atas air. Jalinan akar ini memungkinkan pohon-pohon untuk mengatasi pasang surut harian, yang berarti bahwa sebagian besar hutan bakau tergenang setidaknya dua kali sehari. Akar memperlambat pergerakan air pasang, menyebabkan sedimen mengendap dari air dan membangun dasar berlumpur. Hutan bakau menstabilkan garis pantai, mengurangi erosi akibat gelombang badai, arus, ombak, dan pasang surut. Sistem akar bakau yang rumit juga membuat hutan ini menarik bagi ikan dan organisme lain yang mencari makanan dan perlindungan dari predator.

CORAL REEF

Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem khas pada perairan pesisir di wilayah tropis. Terdapat dua penjelasan khusus terhadap terumbu dan karang, yang mana kedua buah kata ini bukan merupakan satu kesatuan, melainkan penggabungan kata dari terumbu dan karang yang akan dijelaskan pada ulasan dibawah ini. Karang merupakan individu-individu berukuran kecil yang disebut polip. Setiap polip seperti kantung berisi air yang dilengkapi dengan lingkaran tentakel yang mengelilingi mulutnya, dan terlihat seperti anemon kecil. Polip di dalam koloni terhubungkan oleh jaringan hidup dan dapat berbagi makanan. Sedangkan terumbu karang adalah struktur di dasar laut berupa deposit kalsium karbonat yang dihasilkan terutama oleh hewan karang. Karang adalah hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam Filum Coelenterata (hewan berrongga) atau Cnidaria. Binatang karang terlihat seperti tanaman, padahal sebenarnya karang merupakan sekumpulan hewan-hewan kecil yang bernama polip.

Orang yang pertama kali mengklasifikasikan karang sebagai binatang adalah J.A. de Peysonell, seorang ahli biologi dari Perancis pada tahun 1753. Dalam klasifikasi ilmiah, karang berada dalam filum Cnidaria, kelas Anthozoa. Terumbu karang (coral reefs) juga merupakan kumpulan masyarakat (binatang) karang, yang hidup di dasar perairan, yang berupa batuan kapur (CaCO3), dan mempunyai kemampuan yang cukup kuat untuk menahan gaya gelombang laut. Terumbu terbentuk dari endapan-endapan masif kalsium karbonat yang dihasillkan oleh organisme karang pembentuk terumbu (karang hermatifik) dari filum Cnidaria, ordo Sclerectinia yang hidup bersimbiosis dengan alga zooxanthellae dan sedikit tambahan alga berkapur dan organisme lain yang mengsekresi kalsium karbonat.

SEAGRASS

Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang dapat tumbuh dengan baik dalam lingkungan laut dangkal. Semua lamun adalah tumbuhan berbiji satu (monokotil) yang mempunyai akar, rimpang (rhizoma), daun, bunga dan buah seperti halnya dengan tumbuhan berpembuluh yang tumbuh di darat. Jadi sangat berbeda dengan rumput laut (algae).Lamun tumbuh berkerumunan dan biasanya menempati perairan laut hangat yang dangkal dan menghubungkan ekosistem mangrove dengan terumbu karang. Wilayah perairan laut yang ditumbuhi lamun disebut padang lamun, dan dapat menjadi suatu ekosistem tersendiri yang khas.